Cerita Di Balik Tirai


Sayang ..
Kau tak tau aku menunggu mu disini ..
Dengan banyak tetesan air mata yang beruraian ..
Aku masih bisa tersenyum ..
Aku masih bisa tertawa ..
Tapi, kau tak bisa lihat apa yang terjadi di dalam hatiku.
Kau hanya diam dan mengikuti ego mu ..
      Setelah 3 minggu berlalu, menuju minggu ke empat. Dia menghantamku dengan berbagai rasa sakit yang membuat aku selalu merasa ingin memotong nadi tangan kiriku. Aku hanya punya pena dan buku tulis bergaris yang memang harus aku bawa selalu. Seharusnya aku bisa membawa suatu benda yang lebih menarik dari ini atau bisa jadi sebuah pisau lipat untuk suatu keterpaksaan.
      Aku tidak bisa konsentrasi belajar dengan apapun yang ada dihadapanku. Dia yang duduk di kursi sejajar dengan barisanku membuat aku selalu ingin memukul dengan kepal tanganku ke meja hingga membentuk lubang kasar. Aku penuh amarah, aku bisa sabar. Aku berpura-pura tertawa seperti biasa dan tidak ingin menampakkan kekesalanku, kecemburuanku yang begitu dapat membuat mereka takut. Aku tak ingin membuat masalah, aku tidak ingin ruangan dan psikolog yang menanyakan semua pertanyaan bodoh itu. Tidak!! Aku tidak ingin ..!!

Sayang ..
Kau ucapkan kau punya banyak mimpi ..
Tentang aku dan dirimu ..
Yang seakan-akan menjadi akhir yang bahagia ..
Apa kau bisa melihatnya ..?
Kenapa hanya dengan bibir itu kau bisa mengungkapkannya..?
Apakah ini kenyataan ..?
      Nyatanya aku selalu terpesona dan selalu bisa mengasihani dirimu yang telah meracuni semua seluk-beluk kehidupan hati dan otakku. Saat itu yang aku ingat, kau ingin memegang tanganku menaiki sebuah bukit kecil di dekat danau. Kita duduk disana menceritakan tentang kehidupan kita. Dan kau bilang aku adalah orang yang selalu bisa menasehatimu, yang selalu mengingatkanmu untuk tetap bersabar.
      Aku terbuai dengan mimpi yang selalu kau janjikan kepadaku, aku tidak pernah tau, ternyata kau menguntit ku dibalik tulisan pendek dunia maya yang mereka sebut itu twitter. Aku tak sengaja bahkan tak pernah berpikir untuk apa yang telah aku lakukan di dunia maya itu adalah sebuah keinginan ku. Kau merangkulku, disaat semua bayang-bayang mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, aku kira kau tidak sengaja, dan ternyata ..? kau sengaja ..
      Aku terkejut, rasanya perutku mulai membual. Aku tak percaya, aku kira ini mimpi dan kau mengusap kepala ku dengan penuh kasih sayang, meletakkan tanganmu melingkari bahu panjangku. Aku biarkan seketika seakan-akan aku bisa merasakan kau lah yang aku inginkan, dan aku tersenyum karena kau mengerti aku.

Aku tak tau, entah seberapa banyak uraian airmata itu ..
Telah terjatuh diatas sajadahku ..
Aku telah membawamu dalam doaku ..
Namun, entah apa yang terjadi aku tak mengerti ..
      Ku bilang aku hanya ingin menjaga perasaannya agar tak terluka. Kau menjauhiku. Dan malam itu kau bilang kalau kau hanya ingin kita perlaha-lahan mereka tau. Kau menarik omonganmu lagi, dan kau bilang sampai mereka tau sendiri ..
      Nyatanya berbeda dengan apa yang kulihat, mungkin ada orang lain disini yang juga kau suka dan kau sayangi selain aku. Mungkin, kau juga menjaga perasaannya. Aku menghargaimu ketika kau lebih memilih aku, dan menunggu aku dibanding harus mencari wanita lain. Tapi? Ketika aku telah bersamamu ..?
      Aku hanya ingin percakapan singkat, percakapan dari hati ke hati, percakapan yang menyentuh dibalik pertemuan singkat kita. Aku iri dengan kau bercanda tawa,bermain bersama seperti sepasang kekasih yang saling menjahili. Itu bukan aku, tapi temanku. Teman dekatku.
      Kau tidak pernah memandang bahwa aku merasakan sakit disini, ketika aku lebih memilih pergi menahan amarah dan tangisku. Ketika aku hanya diam dan menyumbat kedua telingaku dengan lagu beat rock barat yang aku dengarkan demi tidak mendegarkan apa yang sedang terjadi.
      Kau tidak pernah menganggapku ada, aku melihat kau lebih bahagia kau lebih ingin hidup dengannya, tertawa dengannya, mengganggunya daripada kepada ku dulu. Aku tau, kita sama-sama menyembunyikannya, aku tau kau masih milikku dengan kejelasan dibalik tirai. Kita sama sayang, aku cemburu tapi aku diam, aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Kau  membuatku melonjak, aku mendekatinya sebagaimana persisnya kau mendekati dia teman dekatku. Kau marah kepadanya. Tak kah kau bisa berpikir mengapa aku melakukanyna ..? karena aku cemburu, aku adalah kamu, jika aku merasa cemburu kau berhak tau dan merasakan hal yang sama.

Kini, aku mulai menutup kedua mataku ..
Walau aku masih meraba-raba jalan pulangku ..
Kemana seharusnya aku berada ..
Aku memulai menutup kedua telingaku ..
Mencoba lebih baik mendengar apa yang seharusnya
Aku dengar ...
      Aku mulai paham dengan sikapmu yang tidak pernah serius menanggapi perasaan tulus ku. Aku hanya ingin diam dan tertawa melihat semua apa yang tega kau lakukan didepan mataku. Aku tau dan kau tau tentang kita, aku tau kau, tapi kau tak pernah tau aku.
      Kau menyayangiku, tapi kau bisa menyayangi orang lain yang kau anggap lebih nyaman bersama nya, pergilah .. apapun yang kau lakukan, aku diam, dan aku tidak akan pernah menuntut apapun demi ini.
      Aku dan air mataku mungkin tidak akan pernah berhenti untuk menangisi mu, karena kau yang telah mengancurkan semua yang ingin aku nyatakan dalam setiap mimpi-mimpi, membangun kehidupan yang sangat jauh dari kesakitan.
      Kita tetaplah sepasang kekasih dibalik tirai, dengan sikap ego tinggi yang tidak pernah mau untuk mengalah, dibalik tirai ini kita masih menyimpan dendam dan sakit hati. Sadarlah sayang, kita saling menyayangi. Masihkan perasaan buruk ini menghalangi kita untuk memberikan kasih sayang yang tulus ..?? kehidupan kita adalah dibalik tirai, jika tirai telah dibuka, aku dan kau bukan siapa-siapa lagi, kita bebas mau melakukan apapun sebagaimana kau membuatku mati amarah akan kecemburuan yang kau buat itu.
      Ini cerita kita dibalik tirai sayang, aku menangis dihadapanmu dan meminta mu untuk tetap mengerti aku, aku tidak ingin karma menyakiti mu lebih dari sakit ketika kau cemburu padaku. Ini cerita kita, jika kau mau bahagia, jangan buat cerita kita dibalik tirai, buka tirai itu dan semua mereka tau akan kebenarannya. Kau tidak perlu takut untuk aku yang selalu di goda mereka, aku tidak perlu lagi menahan-nahan sakit agar tidak terjadi masalah diantara kita.
      Cerita kita dibalik tirai, kini cerita itu telah selesai sayang, buka lah tirai itu, katakan kepada mereka kalau apa yang mereka dengar adalah kebenaran tentang kita, kita adalah sepasang kekasih.

Aku hanya ingin diam dan menunggu ..
Dibalik tirai yang telah kau tinggalkan..
Kau sesosok cuek yang sesungguhnya punya hati yang tulus
Untuk menyayangiku ..

Aku tidak ingin cerita dibalik tirai itu lagi ..
Aku hanya ingin kau dan aku tertulis benar di
Dalam skenario tuhan,
Aku hanya ingin mimpi yang mimpikan menjadi benar.
Saat aku ingin membalas genggaman yang kau berikan ..
Aku sungguh ingin kau yang dulu, bukan cerita dibalik tirai
Yang menyakitkan.

Biarkan mereka tau sayang, kau milikku dan kau hanya milikku ..
Bukan dia ataupun mereka, pergilah kepadaku ..
Aku kekasihmu yang seharusnya ku sandari kepala dibahu orang
Yang ku percayai ..
Terserah sayang, aku lelah .. aku hanya ingin tersenyum ..

Dari seseorang yang tidak pernah..
Kau anggap kehadirannya ..

Baca Kelanjutannya ya :) klik:bit.ly/1cdudSM

Related Posts:

0 Response to "Cerita Di Balik Tirai"

Post a Comment