Buku Kecil Hijau Titipan Tuhan


Malamku terkoyak karena rindu, dengan ganasnya dingin membungkus badan kecilku yang lemah. Terdiam, hingga detak jantungku sendiri pun terdengar dan aku hanya memandang buku kecil hijau itu dari kejauhan. Buku kecil hijau yang tak pernah kupandang lagi, kini menjadi dera dan sindiran atas kehidupan yang aku jalani. Aku yang masih belum menjadi apa-apa dan aku yang masih sombong atas segala halnya.
Apa gunanya malamku buyar karena rindu jikalau aku masih sungkan tuk menemukannya. Padahal jaraknya tak begitu jauh hingga aku tak butuh berjalan keseberangan. Sebelum aku benar-benar melupakan dia pada saat itu, dia memberikan buku kecil hijau itu kepadaku dan dia berkata “Bacalah, jika kau sedih ataupun senang. Jika aku menghilang aku akan terus melihatmu dari sini, dari sedekat nadimu” ucapnya. Aku tak mengerti, Jika ku pikir inilah pertemuan kami yang terakhir kalinya pasti ini akan sangat menyakitkan.
Aku terdiam menikmati dingin yang bergulat demi gulatan menyekapku dengan perlahan. Rintihan hujan dari langit yang terjatuh terhempas ketanah tempat aku berdiam. Aku yakin, dia sedang bersedih melihat aku yang murung karena kehilangan arah dan mengabaikan semua yang dia katakan padaku. Maaf, mungkin hanya itulah yang bisa aku ucapkan meski ada ribuan kata isi hatiku yang tak tersampaikan padanya. Lidahku kaku seperti malam yang diam dan suaraku susut seperti waktu yang terus berjalan. Malam ini, aku penuh dengan luka.
 Aku perlahan-lahan mulai bercerita panjang dan lebar, hingga ketika lidah ku yang kaku ini lemah pilu mengatakan apa yang ingin kusampaikan. Pelan dan lamban namun setiap kataku melimpah sendat dan terhambat oleh sedikit genangan air yang mulai tumpah di ujung sudut mataku. Kembali aku berkata “A..aa..aaku rin..rindu, kembalilaah” hingga kaki ku pun mematung tak bisa bangkit dan sulit tuk berdiri, aku tertunduk semakin melemah dan memohon kepadanya yang melihat diriku dari sedekat nadi.
Aku merasa kasihan terhadap diriku, penuh dengan kotor yang tak terlihat dan penuh dengan debu yang bertumpuk. Begitu banyaknya hal yang selama ini aku sia-siakan namun aku tak pernah sedikitpun tuk mensyukurinya. Pantas saja dia menghilang, karena ku yakin dia juga telah muak akan sikapku yang seperti ini.
Aku kembali memandang buku kecil hijau itu, sangat rindu padanya hingga aku letakkan jemari ku melingkarinya dan memeluknya meletakkannya di dadaku. Sebentar lalu ku lepas, ku terasa ada hawa hangat yang lengket menelusuri pundaku yang bungkuk. Seiring juga ada suara disudut ruangan yang tak berpenghuni seraya bayangan yang hitam ataupun putih dapat menggetarkan suasana hatiku yang semakin detiknya semakin lumpuh. Ku coba tuk berhentikan isak tangis dari suara parauku. Dari ujung mataku yang mengalir luka, ku diamkan bersama hujan dan gelap ini.  
Terdengar suara dari sana, katanya “Bukalah!! Dan bacalah!!” lalu ku buka. Padahal, buku kecil hijau itu hanyalah kertas putih yang mengusang kecokelatan dengan tulisan yang dulu pernah sekali ku fasih membacanya. Namun, benda itu bercahaya dan terang, berkilauan tapi tak sampai menyilaukan. Ku letakkan cari telunjukku tuk menulusuri kata demi kata yang tertera disana, seperti dulu dimulai dengan membaca “a’uzu billahi minas- syaitanirrajimi” dan kurasakan hatiku tenang seperti disirami air yang dingin.
Kembali aku terdiam dan lagi-lagi mengucapkan “Aku rindu, aku rindu dirimu Ya Allah” dan hatiku juga mengikuti gerak bibir ku membaca tulisan yang indah itu “Bismillahirrohmanirrohim”.  Ku merinding hingga naiklah bulu kudukku, menyesallah aku karena tak dari dulu ku baca Si Sang Penyejuk hidupku.
Beban dipundakku tahap demi tahap meleleh, hari demi hari ku baca benda yang sekarang kuanggap nan istimewa itu. Aku menyesal karena telah berpaling dari Tuhanku sendiri yang bahkan telah jauh-jauh hari menyelamatkan hidupku. Aku seharusnya sudah lama bersyukur jikalau aku sudah hidup selama ini hanya karena Allah lah yang mencintaiku melebihi siapapun di dunia yang ku pijaki sekarang ini.
Aku bahkan sangatlah hina, karena tidak pernah bersyukur kepada Tuhanku sedikitpun.  Aku juga tidak pernah melakukan apapun tuk membalas segala apa yang Dia berikan kepadaku selama ini. Harusnya, aku melaksanakan perintahnya dan harusnya juga aku melaksanakan segala apa yang Dia suka tuk ku lakukan.  Betapa bodohnya aku!!
Kini aku mengerti, kian hari dan demi hari aku merasakan ketenangan dalam hidupku setelah Tuhanku menyadarkanku lebih cepat. Jauh-jauh dia bahkan sudah menyiapkan obat atas penyesalanku selama ini. Terimakasih Tuhanku, kini aku menjadi hambamu yang lebih baik. Aku hanya perlu mengerti dan menyadari bahwa tuk berbicara denganmu dari kejauhan aku hanya perlu membuka dan membaca buku kecil hijau yang engkau titipkan padaku. Dan buku kecil hijau itu adalah Al-qur’anku, penyejuk hatiku.
Tanpa perlu aku kembali tenggelam dalam masa laluku, aku hanya perlu mengingat pesanmu. Pesan singkat berupa amanah kehidupan, aku hanya perlu membuka dan membacanya dan selanjutnya biarlah Engkau yang mengaturnya. “Ya Allah,Tuhanku. Aku rindu padamu, jika ini adalah caranya maka aku akan selalu ingin berbicara denganmu. Agar ku merasakan kedamaian didalam hidupku. Ya Allah, terimakasih atas buku kecil hijau titipanmu. Dan dia sungguh sangat berarti untukku.

Related Posts:

0 Response to "Buku Kecil Hijau Titipan Tuhan"

Post a Comment