baca juga yang pertama :) Cerita Di Balik Tirai bit.ly/1bYa66Q
Sakit
memang, tapi ada terselip rasa bahagia disana.
Kau membuat ku merasa benar-benar
merasa sangat nyaman untuk meletakkan kepala kecil ku diatas bahu orang yang
kupercayai. Saat itu, kita sedang menceritakan tentang kehidupan kita, problema
yang sedang kita hadapi. Saat itu, aku sangat terpuruk, terjatuh karena suatu
hal yang menyiksaku yang membuat aku membutuhkan semangat hidup dari dirimu.
Siang itu begitu hangat, sehangat mentari
yang sedang bersinar terang tepat diatas kepala. Pembicaraan kita pun mengikuti
hangatnya cahaya mentarinya, disertai amarah dan intonasi suara yang tinggi
dari dirimu. Saat itu aku ingin menangis, entah karena sedih atau bahagia. Entah
karena aku sedang terpuruk, aku membutuhkanmu. Entah karena aku sedang bahagia,
karena kau memperhatikan ku dengan tegas.
Aku ingat saat itu kau memberikan
aku sejuta kata yang bisa jadi membuat aku merasa rendah, membuat aku merasa
semakin bersalah. Air mata itu hampir terjatuh, aku berusaha untuk tak
memperlihatkannya, tapi kau tau itu. Kau
benar-benar tau bagaimana sikapku, bagaimana jika aku tidak serius, bagaimana
jika aku berpura-pura. Sehingga aku kehabisan cara untuk tidak memperlihatkan
kesedihanku.
Sebenarnya aku suka saat kamu membelai
ku, ketika aku menangis, ketika saat itu aku depresi dengan yang aku dapat pada
hari itu. Aku ingin sendiri, tapi kamu mengejarku, berusaha untuk menjaga ku,
berusaha agar aku tak bersedih lagi. Tanpa memikirkan 2kali bagaimana sikapmu
didepan panggung, tanpa kau melihat siapa saja yang menatapmu, kau benar-benar
turut berduka atas kesedihanku. Kau tetap membelai ku tanpa memikirkan
sandiwara kita. Terimakasih sayang.
Bisakah
aku percaya kepada kata-kata manis yang kau ucapkan ..?
Maaf sayang, jika kamu menilai ku
dengan sangat tegas. Maaf, jika kamu memang tak suka dengan sifatku. Aku tau,
tidak ada anak perempuan yang semada aku, yang senakal aku, sebradal aku yang
selalu acuh tak acuh mengurus diriku sendiri. Saat itu, ada rasa kesal, tapi
aku senang. Kamu bilang “cewek itu gak ada yang mada, cewek itu gak ada yang
nakal. apalagi tuh liat mata kamu, udah seperti panda aja, hampir setiap malam
kamu tidur larut malam dan itu gak baik buat kesehatan kamu. Boleh, boleh ..
tapi memang kalau ada perlunya aja, jangan sering2 ..”. seketika aku ingin
menangis, aku tau dia begitu karena dia menyayangiku, aku tau karena dia
perhatian denganku. Ah, sudahlah.. Sebenarnya aku bahagia ketika dia bersikap
lebih tegas. Seakan-akan dia memang tidak ingin aku kenapa-kenapa.
Kamu berpesan kepadaku, kalau aku
gak boleh sedih-sedih lagi, gak boleh nangis-nangis lagi, dan gak boleh
melakukan hal aneh. Ketika itu aku menceritakan kepada kamu bahwa aku pernah
mengalami hal yang paling terjatuh, aku menyayat pergelangan nadi tangan kiriku
hingga berdarah. Kamu bilang “jangan lakukan itu lagi, aku mohon. Jangan lakukan
lagi, gak begitu caranya menyelesaikan masalah”. Seketika aku terdiam dan
merenggut.
Jika aku tanya kan kenapa, kau hanya
menjawab “kalau kamu sedih, aku bakalan nangis”. Aku benar-benar menyangka dia
laki-laki yang lemah, dan aku bertanya kepadanya “tapi aku gak ngeliat air
matanya ..???”. kamu tersenyum dan merangkulku lagi, kamu tersenyum dan berkata
dengan sangat pelan, jelas dan lembut ”memang gak ada air mata yang jatuh, tapi
air mata yang ada disini, dihatiku” hingga iya meletakkan jemarinya didadanya,
menyakinkan aku agar aku benar-benar percaya dengan semua yang dia katakan. Aku
benar-benar terdiam dan menampar lembut wajahnya, dia tersenyum dan aku
tersenyum, sedihku perlahan sirna.
Aku
mulai bisa bangkit lagi, melupakan semua masalahku.
Karena
kamu yang selalu menguatkan aku.
Aku bersyukur kepada Yang Disana. Dia
benar-benar tak ingin melihat hamba-Nya yang disini terus terlarut dalam
kesedihan. Sudah cukup aku kuat, sudah cukup aku sabar, sehingga dia mengubah
sedih ku menjadi kebahagiaan. Kebahagiaan ..? aku sudah bilang, ada saatnya
bahagia itu benar-benar menjadi pelengkap dalam kisah aku dan kamu. Aku tau,
aku merasakan bahwa aku berada dalam panggilan yang selalu kamu bawa dalam doa
mu, seperti aku mendoakan kamu.
Hari itu terasa sangat lebih ringan.
Ada beberapa kalimat yang sekarang masih mendengung dikepalaku. Beberapa kalimat
yang sungguh membuat aku merasa bangga menjadi milik kamu. Aku berhasil merebut
hati kamu, benar-benar membuat kamu menyatakan bahwa kamu benar-benar
menyayangiku.
Aku benar-benar terpesona mendengar
kalimat itu disaat kamu membantah dengan keras dan sigap bahwa kamu tidak
mungkin dan bukan laki-laki yang tidak setia kepada wanitanya. Kamu bilang ”aku
gak seperti itu, kamu udah cocok sama aku, udah nyaman sama kamu”. Aku hanya
tersipu malu menahan bahagia yang tidak bisa aku jelaskan yang tidak bisa aku
rangkai dengan kata-kata.
Mungkin rasa bahagia itu benar-benar
ada dan nyata ketika aku bersama kamu. Buktinya, aku bisa merasakan senyumanku
tanpa terpaksa . Dan, saat yang paling teramat aku ingat, yang tidak pernah aku
lupakan “bagaimana pacaran sama aku ..? bahagia gak ..?”, dan lagi.. dan lagi..
tatapan itu, senyuman itu menghanyutkanku, sebuah suara lembut menyelimutiku
sore itu, dia bilang “aku bahagia”.
Ternyata
Tuhan memang Adil dan menepati Janji-Nya ..
Pada
waktu yang memang benar-benar dia tata dengan rapi ..
Buktinya,
Tuhan selalu membalas semua kesabaran yang ada dalam diri kita ..
Tuhan
selalu membalas semua rindu dan cinta tulus yang terpendam ..
Dia
menciptakan seorang anak laki-laki ..
Untuk
menemaniku ..
Untuk
menjagaku ..
Yang
selalu berada disampingku disaat dalam keadaan apapun ..
Dia
benar-benar menjawab semua doaku ..
Dia
benar-benar menjawab semua doamu ..
Dan
Dia benar-benar memberikan kebahagiaan ..
kepada
aku .. kamu .. dan KITA :)
0 Response to "Cerita Di Balik Tirai 2 ( Dia menjawab semua doa kita )"
Post a Comment