SEBUAH CERITA BERSAMA LANGIT YANG MENANGIS


            Kau mungkin tak akan paham dengan perkataan ini, siapapun juga tidak akan mengerti  jika aku katakan. Karena, jikalau bukan karena kau juga penyebabnya maka tak akan pernah sesulit ini untuk mengatakannya – 
            Langit tak begitu cerah bukan? Dan perasaan mengantuk itu mulai datang ketika kita sedang ingin menghabiskan waktu untuk bersama di awal bulan ini. Masih di awal waktu, atau mungkin karena film yang kita tonton terlalu membosankan dan tidak terlalu romantis atau bahkan jika aku boleh berkomentar itu tidaklah romantis.
            Aku tidak terlalu menikmatinya, mungkin karena perasaan mengantuk yang telah dahulu mencuri hatiku agar aku tidak memperhatikan layar besar yang ada didepan. Dan perlahan-lahan sesuai dengan yang selalu aku inginkan, bahu .. bahu mu  adalah bantal yang paling nyaman yang pernah aku miliki, meski hanya bermodal daging yang tak terlalu banyak ditambah dengan sisa otot yang tak lagi besar ukurannya.
            Aku mencuri tangan mu, melingkarinya ditanganku, lalu menyandarkan kepalaku dibahu mu yang nyaman itu, hampir sejam waktu berlalu dan keadaan mengambil sepenuhnya  pikiranku dari dalam bioskop itu. Aku memikirkan mu, tentang bagaimana aku bisa jatuh cinta kepada orang yang seharusnya bisa mengambil hatiku lebih dalam lagi.
            Langit menangis dengan isaknya yang deras dan kuat, dan membuatku dua kali teringat akan dirimu yang nyata.  Aku mengkhawatirkan mu, dan ikut menangis bersama langit yang gelap. Teringat disaat kau memegang tanganku, dan mencium keningku secara tiba-tiba sebelum kita duduk di kursi penonton. Dan kamu katakan “i miss you, really” dan aku benar-benar merasakan bahwa kau sungguh menunggu hari ini.
            Lebih dari setengah tahun bukan? Dan akhirnya aku benar-benar percaya dan membuktikan  kata Kak Dwitasari di dalam sebuah cerita pendeknya yang berjudul “ Cinta itu ada karena terbiasa” yang pernah kubaca saat aku masih duduk dikelas 1 SMA. Aku selalu mengingat bagaimana kak dwita bisa jatuh cinta diam-diam dan menyimpan semua perasaannya saat dia selalu bersama dengan orang yang dia cintai itu. Cinta itu ada karena terbiasa, terbiasa bersama-sama, terbiasa nyaman, terbiasa berbagi suka dan duka, maka cinta itu benar-benar datang dengan sendirinya dan benar-benar ada karena kita tebiasa melakukan banyak hal dengan bersama-sama.
            Kau memegang tanganku, dan bisa kurasakan bahwa kau telah jauh mengubah kehidupanku lebih dari setengahnya. Ku katakan bahwa aku juga sangat merindukanmu, dan sangat ingin memelukmu. Hingga kusadari aku tertidur ketika langit masih menangis dan air matanya yang dingin menyelimuti ku lebih dalam agar aku cepat melupakanmu.
            Dan kau benar, bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jalani saja, dan tetap berpikir positif maka semuanya akan menjadi baik seperti yang kita harapkan. Mungkin aku hanya takut akan tidak bisa merasakan jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya terhadapmu. Karena, menjelang lebih dari setengah tahun ini, kau benar-benar membuat ku gila dan kehilangan tujuan hidup.
            Jatuh cinta itu nano-nano rasanya. Kadang asam karena cemburu melihat kamu melirik wanita lain yang lebih cantik daripada aku. Kadang asin ketika kamu dengan sengaja menarik perhatian orang lain didepanku. Pahit ketika kamu marah karena aku tak kunjung dewasa dan manis saat kau mencoba untuk menggodaku ketika aku merajuk. Dan itulah yang benar-benar ingin aku rasakan didalam kehidupan ini, bersama dengan orang yang terkasih yang sedang duduk disampingku yang  samar ketika aku melihat didalam gelap, dan menjadi buta ketakutan kehilanganmu.
            Satu kali, ku kira itu hanya perasaan biasa. Dua kali, mungkin hanya terobsesi. Tiga kali, mungkin aku salah. Empat kali, mungkin hanya kebetulan. Kelima? Mungkin aku hanya benar-benar merasa ada yang sedikit berbeda dan itu wajar. Dan untuk yang kesekian kalinya? Ah, aku benar-benar jatuh cinta.
            Aku selalu bertanya padamu bukan? “pakai pelet apaan sih? Kok bisa buat aku jatuh cinta berkali-kali..?” dan tawa manis itu bergema didalam telingaku “Hahahaha, pakai pelet ikan! Ya gak pakai pelet apa-apaanlah” dan meninggalkan jejak sebagai memori yang akan menjadi sejarah dalam hidupku nantinya.
            Hal yang selalu aku ingin rasakan, jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama dan itu membuat perasaanku semakin besar. Dan, aku beruntung mendapatkan orang sepertimu. Seseorang yang selalu membuat aku ingin menangis, haru dan selalu ingin memelukmu. Aku benar-benar tak bisa menjauhi pikiran ini. Apakah ini buruk? Tidak, ini baik. Bahkan sangat lebih baik dari yang semestinya.
            Dan sekarang, kau mulai memahami aku. Kau mulai mengerti akan perasaanku, iyakan? Dan kau benar-benar menunjukkan bahwa kau menyayangi aku sebagaimana akupun begitu. Dan kitapun akhirnya  mengerti satu sama lain, saling menjaga hati kita sendiri untuk orang yang kita sayangi dan saling berharap tentunya.
            Kini,  kita saling tidak ingin kehilangan karena perasaan nyaman yang begitu dalam. Bagaikan emosi yang teredam dan terkalahkan  karena cinta. Dan kita kembali pada hati kita, menemukanmu didalam mataku, dan menemukanku didalam matamu.
            Akhirnya, langit cerah kembali kan??? Dan ingatanku yang selalu tertuju padamu itu, ketika didalam bioskop membuat aku tersenyum saat aku melihatmu diremang kegelapan. Membayangkan betapa kita telah melewati beberapa rintangan yang cukup berat bersama dan akan selalu bersama melewati rintangan yang lebih berat selanjutnya. Dan aku mengembalikan diriku yang terbawa pada memori sebelum langit menangis dan membangunkanku dari mimpi yang sangat indah.
 Sayang, terimakasih untuk selalu ada dan menyemangatiku, terimakasih.

            Bagaikan sepasang merpati yang saling terbang berlawanan arah, kemanapun dia pergi, dia akan kembali pulang ketempat pasangannya berada – untuk kamu.

Related Posts:

0 Response to "SEBUAH CERITA BERSAMA LANGIT YANG MENANGIS"

Post a Comment